Gustino : Berawal dari Overweight, Kini Ketagihan Lari

Posted by larilari 05/12/2020 0 Comment(s)

by : Arako

 

Narasumber : Gustino

 

"Awalnya dulu karena overweight. Saya lihat teman-teman yang rutin lari ternyata berhasil punya badan lean (kering tanpa lemak) dan bebas makan apa saja tanpa takut gendut. Dari sana saya jadi terinspirasi dan jadi ikutan lari."

 

Hal itu dikatakan Nurly Gustino, seorang pelari marathon asal Lahat, Sumatera Selatan yang ditemui larilari.id belum lama ini. Meski sudah banyak berpartisipasi di event-event lari internasional seperti New York Marathon, Singapore Marathon, Kuala Lumpur Marathon, Summer Run Tokyo, dan kota-kota lainnya di dunia, pemuda yang akrab disapa Gustino ini menolak disebut atlet. Dia lebih senang melabeli diri sebagai sport enthusiast. "Banyak yang lebih kuat dan berprestasi dibanding saya. Kalau saya hanya sebatas orang yang suka lari saja," ujarnya merendah.

 

Dengan alasan ingin menurunkan berat badan, Gustino mulai menekuni dunia lari pada 2012 lalu. Menurutnya, tantangan tersulit yang dihadapi adalah kedisiplinan dan konsistensi. Dua hal itu adalah kunci keberhasilan menaklukkan lari, namun sekaligus yang paling berat dilakukan. "Sulit ya, karena harus rela bangun subuh terus mulai lari pagi. Rasa malas dan jenuh itu sering menyerang. Tapi tidak boleh berhenti, karena numbuhin semangat lagi itu justru lebih susah."

 

 

Gustino berlatih lari setiap hari. Namun untuk setiap minggunya dibagi menjadi 3 kali latihan yakni tempo/interval, strength training & long run. Selain itu, biasanya diselingi dengan easy run biar tidak bosan. Gustino menyarankan masyarakat agar berlari setiap hari walau hanya sebentar. Keteraturan dan konsistensi seperti ini lebih baik ketimbang merapelnya langsung seminggu sekali. "Sebaiknya jangan cuma saat weekend. Karena makin sering latihan akan makin baik untuk badan," saran Gustino.

 

 

Pentingnya Gear untuk Lari

 

Gear atau perlengkapan lari mutlak dibutuhkan pelari, terutama saat mengikuti race. Sebab saat berlomba, tubuh perlu support untuk meningkatkan performa. Misalnya dry fit jersey, sepatu yang ringan, juga eyewear untuk pelindung mata. "Kalau untuk latihan, karena tidak seberat saat race jadi menyesuaikan saja. Yang penting nyaman. Dulu saya kalau latihan tidak pernah pakai yang branded karena mahal dan merasa sayang kalau cuma dipakai untuk latihan. Tapi sekarang di pasaran sudah banyak kok beredar produk-produk branded yang sudah jelas berkualitas, namun harganya masih terjangkau. Itu bisa dipakai," jelas cowok 32 tahun ini.

 

Selain gear, pola makan dan asupan nutrisi juga penting untuk lari. Meski lari bisa membakar kalori dan membuat kita bebas makan apa saja tanpa harus khawatir akan bermasalah dengan berat badan, namun sebaiknya tetap diatur dan tidak berlebihan. "Untuk mendapat postur tubuh dan berat badan ideal, nutrisi yang dikonsumsi harus seimbang. Dan untukmu porsi latihan berat atau saat race yang mengeluarkan banyak energi, kita butuh nutrisi tambahan yang biasanya bisa didapat dari minuman khusus olahraga. Ini penting untuk mencegah tubuh kita terlalu lelah, sakit, atau cedera."

 

 

Tentang Dunia Lari dalam Negeri

 

Gustino melihat dunia lari di Indonesia saat ini sudah jauh lebih berkembang saat ini dibanding masa awal ia menekuninya. Hal ini terlihat makin banyak event-event lari digelar dengan jumlah peserta yang makin meningkat pula. Komunitas-komunitas lari pun menjamur di berbagai kota. .

 

Meski demikian, masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi agar dunia lari dalam negeri menjadi semakin baik, terutama faktor keamanan. "Mayoritas kita kan larinya masih di jalanan, untuk saat ini bisa dibilang jalanan Indonesia masih kurang aman dengan masih tingginya angka kecelakaan. Berharapnya ada ruang dan kesadaran pengendara untuk tidak klakson atau terlalu mepet ke sisi jalan saat kita lari."

 

Jangankan untuk latihan di hari-hari biasa, lanjut Gustino, untuk event lari besar di Indonesia saja jalanan masih tidak steril. "Bahkan di event lari besar saja kita masih harus lari berbarengan dengan kendaraan bermotor. Hal ini yang membedakan Indonesia dengan negara-negara lain yang lebih maju," imbuhnya.

 

Gustino lalu mengisahkan pengalamannya berpartisipasi di sejumlah event lari dunia. Menurutnya yang paling memorable adalah New York Marathon 2019 yang diikutinya tahun lalu. "Ini kan major event, event paling besar di dunia. Untuk dapat slot lari susah. Tapi puas banget karena sepanjang lintasan 42 kilometer itu support penonton tidak habis-habis. Biarpun capek selalu semangat lagi kalau lihat mereka teriak. Berharapnya sih suatu saat di Indonesia ada event lari yang sebesar itu juga," beber Gustino.

 

Tak bisa dipungkiri, saat ini Gustino merindukan masa-masa sebelum pandemi sehingga bisa bebas mengikuti berbagai event. Namun meskipun nyaris sepanjang tahun 2020 ini tidak ada event maraton yang digelar, Gustino tetap menjalani latihan seperti biasa. "Latihan sih tetap, setiap hari. Bedanya mungkin lebih banyak lari sendirian aja sih. Karena biar tetap siap mengikuti event maraton selanjutnya kalau digelar lagi."

 

 

 Dukungan Sponsor

 

Gustino senang dengan makin banyaknya perusahaan, salah satunya seperti larilari.id yang tergerak memberikan dukungan kepada atlet dan sport enthusiast  untuk berprestasi dan mengembangkan diri. Tanpa dukungan sponsor, Gustino mengaku akan sulit membuat diri berkembang.

 

"Lari itu sebenarnya olahraga simple. Tapi tetep butuh modal dan effort lebih kalau mau berkembang. Bukan cuma untuk melengkapi diri dengan gear berkualitas demi performa maksimal, tapi juga untuk memperkaya ilmu dan pengalaman dengan mengikuti berbagai event di tempat lain. Dukungan dari sponsor ini bisa bikin kita sedikit bernapas lega dan hanya fokus dengan lombanya."

 

Diakui Gustino, dukungan sekecil apapun akan sangat berarti, khususnya bagi pelari-pelari yang masih belum punya nama.Dia berharap makin banyak pihak yang tergerak untuk membantu mengembangkan potensi pelari-pelari dalam negeri. "Kalau atlet-atlet besar yang sudah mendulang banyak prestasi biasanya nggak sulit dapat sponsor. Tapi kalau seperti saya dan rekan-rekan yang belum apa-apa, dukungan sponsor bikin kami punya kesempatan untuk mengembangkan diri."

 

 

Guatino optimis tren lari Indonesia bisa berkelanjutan. Sebab sudah banyak yang merasakan manfaat kesehatannya. Dia mengajak masyarakat yang sudah memulai untuk tidak berhenti. "Dulu saya memulai lari karena overweight, sekarang malah jadi ketagihan karena memang merasakan tubuh dan mental jadi lebih sehat. Bukan cuma jadi lebih bebas makan apa yang kita inginkan, tapi juga bisa nambah pengalaman dan banyak teman. Lari itu benar-benar enggak ada ruginya deh," pungkas Gustino. 

Leave a Comment